Jumat, 26 Oktober 2012

Apakah yang salah? rasaku? (2)



Seminggu setelah itu, tak ada yang berubah dengan hubungan Jildan dan Igee. Mereka masih saja saling mencuri pandang satu sama lain. Dan Igee pun masih berusaha menenangkan perasaannya jika ia melihat Jildan digodai oleh beberapa kakak kelasnya.
            “Gi, ke kantin yuk! Laper nih,” ajak Rizka yang langsung menariknya keluar kelas tanpa permisi.
            “Iyaaa, udah-udah lepasin, sakit nih tangan akunya.” Seru Igee sembari melepaskan diri dari cengkraman Rizka.

            Mereka pun tiba diarea kantin dan mencari tempat yang pas untuk makan. Akhirnya, mereka pun memilih daerah pojok kanan. Setelah memesan makanan, mereka pun mulai ngobrol dari mulai a sampai z. 
            “Gi, gawat, ternyata ada yang suka juga sama si Jildan!” ucap Rizka setengah berbisik.
            “Ha? Kakak kelas itu, bukan?” tanya Igee balik sembari menunjukkan kearah seorang kakak kelas mereka yang tempatnya tak jauh dari mereka. Rizka melirik kearah belakang, mencari orang yang dimaksud sahabatnya itu.
            “Bukan,” sanggah Rizka sambil menggelengkan kepalanya dengan keras.
            “Heum, siapa emang?” tanya Igee kemudian.
            “Lolita.” Jawab Rizka pelan.  

            Igee terdiam, wajahnya agak pucat. Berita ini hampir membuat laju darahnya berhenti seketika. Bukan apa-apa, Lolita, teman se-ekskul dengan Igee dan Jildan itu ternyata menyukai Jildan juga. Memang tak pernah ada yang melarang jika ada yang menyukai Jildan, karena dia juga sedang lajang. Namun, kini hati Igee sudah merasa bahwa, dia ingin memiliki Jildan, tak boleh ada yang menyukai Jildan selain dia. Tapi, Igee juga sadar bahwa dia bukanlah siapa-siapa bagi Jildan.
            “Kamu tau darimana?” tanya Igee penasaran.
            “Dibelakang kamu Giii,” ucap Rizka lirih.

            Igee menelan ludah, sembari menatap tajam kearah Rizka. Rizka hanya menatap balik dengan wajah sedih. Lantas, perlahan Igee memutar balikkan kepalanya kebelakang, dan betapa sakitnya kini hati Igee kala melihat Jildan yang didepannya adalah Lolita.

            Jildan dan Lolita, mereka hanya berdiri sambil terdiam. Lolita sesekali melihat kearah Jildan, akan tetapi, Jildan tak menatap kearahnya, ia justru mengedarkan pandangan kesegala arah, sampai akhirnya matanya menangkap sosok Igee yang tak jauh dari tempatnya diam.

            Igee kaget saat ia tertangkap oleh tatapan Jildan, ia pun langsung menunduk dan memutar balikkan badannya dan mencoba bersikap sibuk dengan Rizka. Rizka mengerti apa yang tengah sahabatnya itu lakukan. Kini, tanpa terasa cairan bening yang hangat mulai membasahi pipinya. Rizka pun tak kuasa melihat Igee yang mulai menangis. Rizka menarik lengan Igee dan mengajaknya untuk menuju toilet.
            “Rizkaaaa,” teriak Igee yang langsung memeluk sahabatnya itu setibanya di toilet.
            “Udah, cari yang baru lagi aja Gii, aku yakin kamu bisa.” Ujar Rizka sembari menepuk-nepuk pundak Igee, seolah-olah ia adalah maminya Igee.
            “Mungkin tak seharusnya ya aku berharap lebih, sekalipun benar Jildan menyukaiku.”Ucap Igee dengan lirih.
            “Kalo emang Jildan ditakdirin buat ngisi garis didalam buku kamu, nanti pasti ada kesempatannya, Gi. Dan kalo emang Jildan ga ditakdirin, ya mau gimana lagi,”

            Igee melepaskan pelukannya itu sembari memanyunkan bibirnya.
            “Udah, nunggu buat calon suami aja deh Gii.” Ucap Rizka menasehatinya.
            “Kamu tuh Ka, si Kiki udah tau juga suka sama kamu, kamunya malah gitu.” Kata Igee yang justru mengalihkan pembicaraan mereka.
            “Yee, perasaan gabisa dipaksain kali.” Jawab Rizka dengan tegas sembari mengalihkan pandangannya.
            “Sama kayak aku berarti nasib si Kiki.”

            ***

            Setelah kejadian itu, Igee mencoba melupakan Jildan. Lebih tepatnya, perasaannya pada Jildan. Namun, anehnya, mereka selalu disatukan dalam moment apapun. Kerja kelompok, ekskul, dan bila diluar sekolahpun, Igee selalu menangkap sosok Jildan dimanapun.

            Kini, Igee harus mulai terbiasa, mungkin sikap Jildan sama baiknya pada semua perempuan. Namun, saat Igee mengingat kejadian di tengah hujan itu, hatinya seakan terombang-ambing. Ia bingung dengan sikap Jildan yang sekarang seolah menyatakan keterangan tentang hubungannya dengan Lolita.

            Saat ini, Igee dan Jildan tengah kerja kelompok mengobservasi perpustakaan di kota itu. Sebenarnya Igee menolak bekerja sama dengan Jildan, tapi, itu akan terasa aneh karena akan timbul banyak pertanyaan lagi nantinya diantara teman kelompok yang lainnya.
            “Kamu, kenapa diem aja sih?” tanya Jildan pada Igee yang tengah sibuk mencatat.

            Igee tak menjawab dan tetap berkutat pada tugasnya. Sebenarnya ia memperhatikan dengan baik, kata demi kata yang terucap dari mulut Jildan.
            “Igii, plis, kenapa kamu kok kayak yang ngejauhin aku?”
            Berulang kali, Jildan menanyakan hal itu pada Igee. Sampai akhirnya, Igee merasa kesal dan membantingkan pulpen nya pada meja dengan cukup keras.
            “Uh, kamu ngerti ga sih! Aku gini tuh,” Igee terdiam sesaat, rasanya lidahnya telah kelu. “Aku gini tuh pengen ngilangin rasa ini! rasa pengen milikin kamu ini!”
            “Aku,” suara Jildan berhenti dikerongkongannya. Namun, ia pun memberanikan diri, “aku suka kamu.”
            Mereka saling diam. Lalu Igee mencoba melihat kearah Jildan,
            “Ciyusan?”
            “Eeeh, benerlah.” Kata Jildan meyakinkan. Igee melihat semburat meyakinkan dari Jildan yang padahal ia ketahui ia tengah menutupi grogi nya.
            “Tapi, Lolita? Dia juga suka sama kamu, dan mungkin dia jauh lebih lama suka sama kamu. Dan, mungkin juga dia udah lama nanti kamu, lagian kasian katanya dia duluan yang nembak kamu?” tanya Igee lempeng sembari memanyunkan bibirnya tanda ia tak suka.
            “Iya, tapi dia juga mesti ngerti kalo hati seseorang itu gabisa dipaksa kan?”
            “Jadi kamu…” Igee menatap mata Jildan, mencoba memastikan apa yang ia pikirkan saat ini.
            “Aku udah ngomong kedia, aku ngehargain perasaan dia, dia harus bisa ngehargain perasaan aku juga, kalo aku sukanya ke kamu.”

            Kini, mata Igee tampak berbinar-binar. Seulas senyum nampak di wajah mereka berdua. Jari tangan Jildan mulai merayap menagkap jemari Igee. Igee, dia pikir dia tidak jahat. Ini bukan tentang solideritas atau keegoisan. Igee dari awal sudah menerima jika Jildan memang bukan untuknya, tapi disini, ia juga sudah mempasrahkan rasanya. Igee hanya berpikir, mungkin ini garis takdir yang harus dilaluinya.

 Cinta, memang tak salah bila hanya merasakannya, memilikinya hanya untuk kamu sendiri. Tapi untuk memiliki seseorang yang kita cintai, kita tak akan pernah bisa memaksa, karena itu bukan tentang perasaan kamu saja, melainkan perasaan dua orang yang -harus- sama.     

Tidak ada komentar: