Seminggu setelah itu, tak ada yang berubah dengan hubungan
Jildan dan Igee. Mereka masih saja saling mencuri pandang satu sama lain. Dan
Igee pun masih berusaha menenangkan perasaannya jika ia melihat Jildan digodai
oleh beberapa kakak kelasnya.
“Gi, ke
kantin yuk! Laper nih,” ajak Rizka yang langsung menariknya keluar kelas tanpa
permisi.
“Iyaaa, udah-udah
lepasin, sakit nih tangan akunya.” Seru Igee sembari melepaskan diri dari
cengkraman Rizka.
Mereka pun
tiba diarea kantin dan mencari tempat yang pas untuk makan. Akhirnya, mereka
pun memilih daerah pojok kanan. Setelah memesan makanan, mereka pun mulai
ngobrol dari mulai a sampai z.
“Gi, gawat,
ternyata ada yang suka juga sama si Jildan!” ucap Rizka setengah berbisik.
“Ha? Kakak
kelas itu, bukan?” tanya Igee balik sembari menunjukkan kearah seorang kakak
kelas mereka yang tempatnya tak jauh dari mereka. Rizka melirik kearah
belakang, mencari orang yang dimaksud sahabatnya itu.
“Bukan,”
sanggah Rizka sambil menggelengkan kepalanya dengan keras.
“Heum, siapa
emang?” tanya Igee kemudian.
“Lolita.” Jawab
Rizka pelan.
Igee terdiam,
wajahnya agak pucat. Berita ini hampir membuat laju darahnya berhenti seketika.
Bukan apa-apa, Lolita, teman se-ekskul dengan Igee dan Jildan itu ternyata
menyukai Jildan juga. Memang tak pernah ada yang melarang jika ada yang
menyukai Jildan, karena dia juga sedang lajang. Namun, kini hati Igee sudah
merasa bahwa, dia ingin memiliki Jildan, tak boleh ada yang menyukai Jildan
selain dia. Tapi, Igee juga sadar bahwa dia bukanlah siapa-siapa bagi Jildan.
“Kamu tau
darimana?” tanya Igee penasaran.
“Dibelakang
kamu Giii,” ucap Rizka lirih.
Igee menelan
ludah, sembari menatap tajam kearah Rizka. Rizka hanya menatap balik dengan
wajah sedih. Lantas, perlahan Igee memutar balikkan kepalanya kebelakang, dan
betapa sakitnya kini hati Igee kala melihat Jildan yang didepannya adalah
Lolita.
Jildan dan
Lolita, mereka hanya berdiri sambil terdiam. Lolita sesekali melihat kearah
Jildan, akan tetapi, Jildan tak menatap kearahnya, ia justru mengedarkan
pandangan kesegala arah, sampai akhirnya matanya menangkap sosok Igee yang tak
jauh dari tempatnya diam.
Igee kaget
saat ia tertangkap oleh tatapan Jildan, ia pun langsung menunduk dan memutar
balikkan badannya dan mencoba bersikap sibuk dengan Rizka. Rizka mengerti apa
yang tengah sahabatnya itu lakukan. Kini, tanpa terasa cairan bening yang
hangat mulai membasahi pipinya. Rizka pun tak kuasa melihat Igee yang mulai
menangis. Rizka menarik lengan Igee dan mengajaknya untuk menuju toilet.
“Rizkaaaa,”
teriak Igee yang langsung memeluk sahabatnya itu setibanya di toilet.
“Udah, cari
yang baru lagi aja Gii, aku yakin kamu bisa.” Ujar Rizka sembari menepuk-nepuk
pundak Igee, seolah-olah ia adalah maminya Igee.
“Mungkin tak
seharusnya ya aku berharap lebih, sekalipun benar Jildan menyukaiku.”Ucap Igee
dengan lirih.
“Kalo emang
Jildan ditakdirin buat ngisi garis didalam buku kamu, nanti pasti ada
kesempatannya, Gi. Dan kalo emang Jildan ga ditakdirin, ya mau gimana lagi,”
Igee
melepaskan pelukannya itu sembari memanyunkan bibirnya.
“Udah,
nunggu buat calon suami aja deh Gii.” Ucap Rizka menasehatinya.
“Kamu tuh
Ka, si Kiki udah tau juga suka sama kamu, kamunya malah gitu.” Kata Igee yang
justru mengalihkan pembicaraan mereka.
“Yee, perasaan
gabisa dipaksain kali.” Jawab Rizka dengan tegas sembari mengalihkan
pandangannya.
“Sama kayak
aku berarti nasib si Kiki.”
***
Setelah
kejadian itu, Igee mencoba melupakan Jildan. Lebih tepatnya, perasaannya pada
Jildan. Namun, anehnya, mereka selalu disatukan dalam moment apapun. Kerja
kelompok, ekskul, dan bila diluar sekolahpun, Igee selalu menangkap sosok
Jildan dimanapun.
Kini, Igee
harus mulai terbiasa, mungkin sikap Jildan sama baiknya pada semua perempuan.
Namun, saat Igee mengingat kejadian di tengah hujan itu, hatinya seakan
terombang-ambing. Ia bingung dengan sikap Jildan yang sekarang seolah menyatakan
keterangan tentang hubungannya dengan Lolita.
Saat ini,
Igee dan Jildan tengah kerja kelompok mengobservasi perpustakaan di kota itu.
Sebenarnya Igee menolak bekerja sama dengan Jildan, tapi, itu akan terasa aneh
karena akan timbul banyak pertanyaan lagi nantinya diantara teman kelompok yang
lainnya.
“Kamu,
kenapa diem aja sih?” tanya Jildan pada Igee yang tengah sibuk mencatat.
Igee tak
menjawab dan tetap berkutat pada tugasnya. Sebenarnya ia memperhatikan dengan
baik, kata demi kata yang terucap dari mulut Jildan.
“Igii, plis,
kenapa kamu kok kayak yang ngejauhin aku?”
Berulang
kali, Jildan menanyakan hal itu pada Igee. Sampai akhirnya, Igee merasa kesal
dan membantingkan pulpen nya pada meja dengan cukup keras.
“Uh, kamu
ngerti ga sih! Aku gini tuh,” Igee terdiam sesaat, rasanya lidahnya telah kelu.
“Aku gini tuh pengen ngilangin rasa ini! rasa pengen milikin kamu ini!”
“Aku,” suara
Jildan berhenti dikerongkongannya. Namun, ia pun memberanikan diri, “aku suka
kamu.”
Mereka
saling diam. Lalu Igee mencoba melihat kearah Jildan,
“Ciyusan?”
“Eeeh,
benerlah.” Kata Jildan meyakinkan. Igee melihat semburat meyakinkan dari Jildan
yang padahal ia ketahui ia tengah menutupi grogi nya.
“Tapi,
Lolita? Dia juga suka sama kamu, dan mungkin dia jauh lebih lama suka sama
kamu. Dan, mungkin juga dia udah lama nanti kamu, lagian kasian katanya dia
duluan yang nembak kamu?” tanya Igee lempeng sembari memanyunkan bibirnya tanda
ia tak suka.
“Iya, tapi
dia juga mesti ngerti kalo hati seseorang itu gabisa dipaksa kan?”
“Jadi kamu…”
Igee menatap mata Jildan, mencoba memastikan apa yang ia pikirkan saat ini.
“Aku udah
ngomong kedia, aku ngehargain perasaan dia, dia harus bisa ngehargain perasaan
aku juga, kalo aku sukanya ke kamu.”
Kini, mata
Igee tampak berbinar-binar. Seulas senyum nampak di wajah mereka berdua. Jari
tangan Jildan mulai merayap menagkap jemari Igee. Igee, dia pikir dia tidak jahat.
Ini bukan tentang solideritas atau keegoisan. Igee dari awal sudah menerima
jika Jildan memang bukan untuknya, tapi disini, ia juga sudah mempasrahkan
rasanya. Igee hanya berpikir, mungkin ini garis takdir yang harus dilaluinya.
Cinta, memang tak salah bila hanya
merasakannya, memilikinya hanya untuk kamu sendiri. Tapi untuk memiliki
seseorang yang kita cintai, kita tak akan pernah bisa memaksa, karena itu bukan
tentang perasaan kamu saja, melainkan perasaan dua orang yang -harus- sama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar